
Ilmuwan temukan fosil hewan multiseluler pada lapisan Ediakara, pecahkan teka-teki evolusi Darwin

Pengunjung melihat-lihat benda pameran di museum warisan alam dunia di lokasi Fosil Chengjiang di wilayah Chengjiang, Provinsi Yunnan, China barat daya, pada 15 Juli 2025. (Xinhua/Chen Xinbo)
Kordata, garis keturunan yang mencakup manusia dan seluruh vertebrata lainnya, mungkin juga telah muncul pada periode Ediakara di masa Prakambrium, sehingga memberikan petunjuk baru mengenai evolusi awal mereka.
Kunming, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan China menemukan fosil hewan multiseluler yang terawetkan dengan baik di lapisan sedimen Ediakara di Yunnan timur, yang menunjukkan bahwa komunitas hewan kompleks sudah ada di lautan jauh sebelum terjadinya ledakan Kambrium.
Studi tersebut, yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Yunnan dan Universitas Oxford, baru-baru ini diterbitkan secara daring dalam jurnal Science.
Menggunakan teknik pencitraan canggih, tim peneliti tersebut berhasil mengidentifikasi beragam bentuk kehidupan purba dari banyak fosil bertubuh lunak, dan yang paling penting, mereka menemukan banyak makhluk sederhana menyerupai cacing yang termasuk di antara hewan-hewan pertama bertubuh simetris.
Makhluk-makhluk ini memiliki bagian-bagian tubuh dasar seperti kepala dan usus, serta mampu bergerak dengan bebas. Penemuan ini mengisi celah besar dalam catatan fosil mengenai bagaimana hewan-hewan purba tersebut berevolusi.
Para peneliti juga menemukan banyak fosil hewan purba tingkat lanjut yang tergolong dalam deuterostoma, kelompok besar yang kemudian berkembang menjadi kordata, yaitu kelompok utama yang mencakup vertebrata (hewan bertulang belakang).
Fosil-fosil ini memiliki tampilan yang sangat mirip dengan fosil yang ditemukan di situs-situs Kambrium terkenal, yang mengindikasikan bahwa kelompok-kelompok hewan penting tersebut sudah ada pada periode Ediakara di masa Prakambrium. Temuan ini juga mengisyaratkan bahwa kordata, garis keturunan yang mencakup manusia dan seluruh vertebrata lainnya, mungkin juga telah muncul pada masa itu, sehingga memberikan petunjuk baru mengenai evolusi awal mereka.
Temuan-temuan ini diyakini memiliki signifikansi penting dalam memecahkan salah satu teka-teki lama dalam biologi evolusioner yang dikenal sebagai ‘Dilema Darwin’.
Dalam bukunya yang berjudul ‘On the Origin of Species’, Charles Darwin memandang kurangnya fosil hewan dari periode Prakambrium sebagai tantangan besar bagi teorinya tentang evolusi bertahap, karena hewan-hewan kompleks tampak muncul secara tiba-tiba di lapisan sedimen Kambrium awal tanpa adanya bentuk leluhur yang jelas. Secara khusus, fosil tubuh asli dari hewan bilateria (hewan dengan sisi kiri dan kanan yang simetris), yang mencakup sekitar 98 persen dari seluruh spesies hewan, sangat langka dari periode geologi sebelum masa Kambrium.
Selama lebih dari satu abad, pencarian fosil bilateria purba menjadi tujuan ilmiah utama untuk menjawab paradoks ini.
Menurut Cong Peiyun, seorang peneliti di Institut Paleontologi Universitas Yunnan, fosil-fosil baru yang ditemukan di Yunnan timur tersebut mengonfirmasi dugaan Darwin seabad yang lalu bahwa kemunculan hewan secara tiba-tiba pada periode Kambrium merupakan ilusi yang disebabkan oleh catatan fosil yang tidak lengkap.
Cong menuturkan bahwa daerah Yunnan timur merupakan pusat global untuk penelitian geologi dan fosil periode transisi Ediakara-Kambrium, dengan catatan rekam jejak yang luar biasa lengkap serta fosil yang terawetkan dengan sangat baik, yang menunjukkan bagaimana kehidupan berevolusi.
Ilmuwan China telah melakukan penelitian lapangan di daerah tersebut sejak 2017, dan berhasil menemukan berbagai lapisan sedimen baru yang mengandung fosil serta banyak spesimen.
"Kunming dan Yuxi di Provinsi Yunnan, secara khusus, merupakan daerah-daerah penting untuk mempelajari asal-usul dan evolusi awal hewan, dengan signifikansi ilmiah yang luar biasa," imbuh Cong.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China capai terobosan besar dalam teknologi sel surya perovskit
Indonesia
•
11 Mar 2025

Ilmuwan ungkap penyebab utama penyusutan volume air Aral Sea
Indonesia
•
18 Dec 2022

Fosil artropoda air tawar berumur 420 juta tahun ditemukan di China
Indonesia
•
01 May 2023

Roket Smart Dragon-3 milik China meluncur dari laut, kirimkan satelit ke orbit
Indonesia
•
15 Jan 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
